Ala, benda kecik je tu!

Diterbitkan pada 16/04/2012. 0 komen diterima.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jika kita membaca hadis-hadis yang menceritakan sifat-sifat Allah, Rasulullah shalla Allahu alayhi wasallam banyak “meletakkannya didalam konteks”. Contohnya hadis,

“Allah lebih gembira menerima taubat hambaNya daripada hamba yang berjalan di padang pasir, lalu ia kehilangan kenderaannya yang memuatkan makanan dan minumannya. Ia menyangka akan mati, lalu ia menggali lubang, dan tidur di dalamnya sambil berkata,’Aku akan tidur di dalam lubang ini sehinggalah kematian datang menjemput’

Tiba-tiba kenderaan dan makanan yang ia bawa berada di atasnya. Sampaikan ia berkata, ‘Ya Allah Kau hambaku, dan aku TuhanMu.(tersasul akibat terlalu gembira)

Maka Allah lebih gembira menerima taubat hambaNya daripada kegembiraan hamba tadi. (Muttafaqun ‘alaih)

Dalam hadis ini, Rasulullah tidak hanya menceritakan bahawa Allah itu Maha Penerima Taubat. Tapi Rasulullah meletakkannya didalam konteks agar pendengar/pembacanya dapat benar-benar merasakan betapa hebatnya sifat Allah itu.

Contoh kedua, dalam hadis,

Teruskan membaca entri ini »

Beragama Santai Tapi Serius

Diterbitkan pada 5/03/2012. 0 komen diterima.

Oleh : Salamun Ali Mafaz

Masih berkaitan dengan tulisan beragama santai tapi serius. Saya teringat ketika suatu hari diajak oleh seseorang Ustad yang kebetulan satu almamater di pesantren, dia menghubungi saya dan dijanjikan akan diajak bekerja di salah satu posisi di Pemda DKI. Dengan semangat saya sambut ajakan tersebut, hingga pada suatu hari, dia menyuruh saya datang menemuinya dengan membawa berkas lamaran kerja di salah satu tempat yaitu Masjid Kebon Jeruk Jakarta Barat. Pada waktu itu, saya diminta menemuinya sore hari sebelum maghrib tiba, tepatnya malam Jumat, kontan timbul pertanyaan pada benak saya, “kenapa saya tidak ke kantor saja Ustad?” pintaku. Kemudian dengan agak membentak dia bilang, “sudahlah, ikuti saja aturanku, mau tidak kamu ikut bekerja. Nanti saya temukan dengan atasan saya!” jawabnya. Dengan niat yang kuat, saya pun berangkat sore hari menaiki Busway dari arah Pondok Indah menuju ke Kebon Jeruk.

Setelah tiba di lokasi, saya terkejut karena di Masjid tersebut dipenuhi orang berjubelan dengan memakai baju serba putih dan rata-rata berjenggot. Sontak saja, saya yang hanya memakai celana jeans dan baju batik dipelototi dari atas sampai ke bawah oleh jamaah tersebut. Beberapa menit setelah berdumpelan mencari orang yang dimaksud, barulah yang bersangkutan keluar menemui saya, itupun setelah ada laporan dari jamaah lain perihal kedatangan saya waktu itu, rupanya Ustad itu merupakan salah satu dari pimpinan jamaah tersebut.

Dalam suasana yang berjubelan, saya disapa dan dibawa masuk ke salah satu ruangan. Kemudian Ustad itu berkata, bahwa orang yang akan dikenalkannya belum datang dan mengatakan ia seorang Habib. Waktu itu, saya hanya menurut saja untuk menunggu sambil lalu menunggu waktu shalat maghrib tiba. Sementara itu saya ditinggal sendiri tanpa adanya minuman layaknya menyambut seorang tamu datang. Beberapa menit saya tunggu, muncullah orang yang dikatakan Habib tersebut, terlihat memang bertampang seperti di Timur Tengah, dengan jubah, serta berjenggot panjang dan lebat dikawal oleh beberapa orang yang berpakaian serupa. Sekerumun jamaah mencium tangan bolak-balik orang tersebut.

Teruskan membaca entri ini »

Adil & Kelihatan Adil

Diterbitkan pada 25/12/2011. 0 komen diterima.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Maaf, sudah agak lama saya meninggalkan laman ini tanpa kemaskini. Kesibukan mungkin satu alasan, namun banyaknya perkara peribadi yang mengalih perhatian saya sejak akhir-akhir ini tidak dapat saya nafikan. Pun, saya bersyukur kerana diberi peluang dan ilham oleh Allah untuk mengemaskini blog ini dengan entri terakhir menutup tirai tahun 2011.

Mungkin isu hudud sudah basi untuk kita perkatakan. Perbincangan secara ilmiah dan berterusan (ongoing) telah lama berlangsung, mencecah belasan tahun, mengenai kerelevenan perlaksanaan hudud di negara kita. Cuma apabila berkembangnya media-media bentuk baru maka sepertimana isu-isu lain, isu hudud meletup menjadi satu perkara yang sensasi. Sama ada dimanipulasikan oleh pelbagai pihak untuk menjadi mata politik (political points) mahupun oleh para ilmuan yang benar-benar ikhlas cuba memikirkan penerapan hudud dan syariat Islam di zaman kontemporari dalam suasana masyarakat berbilang bangsa sekarang.

Antara ulama’ tempatan yang membincangkan mengenai isu ini adalah Prof Madya Dr. Mohd Asri Zainal Abidin, pensyarah Universiti Sains Malaysia yang terkenal dengan aliran pemikiran progresif yang beliau bawa, mewarnai senario agama dan politik negara. Beliau banyak mengupas isu hudud, dari segenap aspek. Walaupun ada yang saya setuju dan ada yang saya kesampingkan (KIV) , namun saya kira usaha yang beliau curahkan ke arah memahamkan masyarakat mengenai hudud serta mempersembahkan hudud dalam pakej Islam yang cantik adalah sangat bernilai. Namun untuk artikel ini, saya cuma akan menyentuh satu perkara sahaja. Saya tidak pasti sama ada ada dinukilkan didalam wacana beliau, atau sama ada saya mendengarnya didalam kuliah beliau, namun saya tertarik apabila beliau menyebutkan, undang-undang Islam itu bukan sahaja adil, tetapi mestilah kelihatan adil.


Adil Dan Kelihatan Adil, Antara Muslim dan Bukan Muslim

Keadilan yang terkandung didalam undang-undang Islam adalah satu keimanan yang berada didalam diri setiap umat Islam. Kerana bagi umat Islam, kita yakin bahawa undang-undang Islam ini diturunkan dari Allah Yang Maha Adil, dan bahawasanya Allah lah yang cukup mengetahui apa yang terbaik untuk seluruh umat Islam. Meskipun terdapat pendapat-pendapat liar yang mengatakan bahawa undang-undang syariah dan hudud adalah ketinggalan zaman dan sebagainya, pendapat sebegini lahir dari aqidah yang tidak sejahtera. Jika akarnya pun sudah reput, tentulah buahnya juga tidak berkualiti. Namun hakikatnya, setiap muslim yang melalui tarbiyyah aqidah yang sejahtera sebagaimana yang Rasulullah terapkan dalam diri para sahabat dan salafussholeh, pasti akan mengakui bahawa hudud itu adalah adil dan saksama, pada dasarnya.

Namun hal ini tidak berlaku kepada orang bukan Islam, kerana mereka tidak beriman dengan Islam. Justeru pada perspektif ini, adalah normal untuk mereka mempertikaikan undang-undang syariah dan hudud, dan adalah normal bagi mereka untuk bersikap skeptik. Kita tidak boleh sewenang-wenangnya mengatakan mereka ingin merendah-rendahkan Islam atau menghina Islam, kerana perspektif mereka ini lahir dari kejahilan mereka. Atas dasar itulah, dikatakan bahawa undang-undang Islam itu juga mestilah kelihatan adil. Dan inshaAllah itu yang saya cuba kupaskan dalam artikel ini.

Teruskan membaca entri ini »

Of Him and Us

Diterbitkan pada 25/10/2011. 0 komen diterima.

Lama benar tidak mengemaskini Leokid.My. Mari saya kongsikan sebuah puisi berbahasa Inggeris yang saya jumpai, yang cukup-cukup menarik pada pandangan saya untuk kita renung-renungkan.

If Prophet Muhammad (SAW) visited you, just for a day or two
If he came unexpectedly, I wonder what you would do?
Oh I know you would give your nicest room, to such an honored guest
And you would surely serve him, your very very best.

You would be your finest, cause you’re glad to have him there
That serving him in you’re home, would be a joy beyond compare.
But when you see him coming, would you meet him at the door
With your arms outstretched in welcome, for your respected visitor?

Or would you run to change your clothes, before you let him in
And hide some magazines to put the Quran, where they had been?
Would you still watch those movies, on your TV set
Or would you switch it off, before he gets upset.

Would you turn off the radio, and hope that he had not heard
And wish that you did not sing, that song word by word?
Would you hide your worldly things, and take the Hadith books out
Could you let him walk right in, or would you rush about?

And I wonder…if the Prophet (SAW) spent, a day or two with you
Would you go on doing the things, that you always do?
Would you go right on and say the things, that you always say?
Would life for you continue, as it does from day to day?

Would your family conversations, keep up their usual pace
And would you find it hard at each meal, to say a table grace?
Would you keep up each and every prayer,without putting on a frown
And would you jump up early, to say your Fajr at dawn?

Would you sing the songs you always sing, and read the books you read
And let him know the things on which, your mind and spirit feed?
Would you take the Prophet (SAW) with you, everywhere you plan to go
Or would you maybe change your plans, just for a day or so?

Would you be glad to have him meet, your very closest friends
Or, would you hope they stay away, until his visit ends?
Would you be glad to have him stay, forever on and on
Or would you sigh with great relief, when at last he has gone.

It might be interesting to know,
the things that you would really do
If Prophet Muhammad (SAW) came,
To spend some time with you.